Sosialisasi Pengurangan Pajak Hotel dan Pajak Restoran Menuju New Normal

SLEMAN, melalui Bidang Pendaftaran Pendaftaran, Pendataan dan Penetapan bekerjasama dengan Bidang Penagihan dan Pengembangan Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Sleman menyelenggarakan Sosialisasi Pengurangan Pajak Hotel dan Pajak Restoran.(3-4/06/20)

Sosialisasi dibuka oleh Sekretaris Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Sleman Haris Sutarta SE, ME.

Dengan mendatangkan nara sumber dari Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, dan Dinas Pariwisata, bertempat di Ruang Rapat III/B Lantai 3 BKAD Kabupaten Sleman.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dra. RR Mae Rusmi Suryaningsih, MT. menjelaskan mengenai Keputusan Bupati Sleman Nomor 43.1/Kep.KDH/A/2020 tentang Jam Perasional dan Kegiatan Usaha Dalam Masa Covid-19.

Jam operasional usaha dalam masa darurat Covid-19 berbeda-beda dari pusat perbelanjaan dan toko swalayan, pasar rakyat diberikan tambahan waktu sesuai dengan kegiatan dan kondisi yang sudah berjalan, usaha hiburan umum dan salon, kafe, warung dan rumah makan, restoran, PKL tetap dapat memberikan layanan makan ditempat, serta pemancingan.

Pelaku usaha wajib mematuhi jam operasional usaha dalam masa darurat Covid-19 sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Bupati tersebut.

Dalam menjalankan kegiatan usahanya pelaku usaha wajib mematuhi ketentuan protokol kesehatan pengananan Covid-19 seperti melakukan pengecekan suhu badan karyawan dan konsumen, mengatur tata letak outlet display barang dagangan dengan memperhatikan protokol kesehatan, menjamin kesehatan karyawan dan memastikan karyawan dalam kondisi sehat saat bekerja.

“Gunakan masker dan menyediakan fasilitas cuci tangan dan atau hand sanitizer” tambahnya.

Masyarakat berkewajiban untuk mendukung upaya penanganan Covid-19 secara tertib, menjaga diri dengan mengurangi aktifitas di luar khususnya di tempat-tempat berkumpulnya massa, meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat secara mendiri sesuai protokol kesehatan serta saling mendukung dan mengingatkan antar warga yang mengabaikan upaya preventif dalam pencegahan penyebaran wabah Covid-19.

Memasuki era New Normal ini Kepala Dinas Pariwisata Dra. Hj. Sudarningsih, M.Si menjelaskan Usaha Jasa Pariwisata.

Dibukanya destinasi wisata diirekomendasikan oleh Gugus Tugas Covid-19 DIY dan Kabupaten/Kota. Pandemi sudah berakhir atau tren Covid-19 sudah melandai dengan jeda waktu sekitar 3 bulan.

Tahapan rencana aksi Recovery-New Normal Juni sampai Desember 2020 dijelaskan tetap menyediakan fasilitas cuci tangan, pembersihan penyediaan fasilitas kepariwisataan, penguatan SDM dan kelembagaan.

Protokol CHS Hotel tetap menyediakan akomodasi seperti menyeiapkan Termo gun, sarana cuci tangan beserta sabun dan air mengalir atau hand sanitizer, pembersihan yang sering dipegang atau kontak langsung dengan beban, pembersihan secara berkala menggunakan dissinfektan, memastikan kebersihan dan hyginitas fasilitas dapur resto dan produk yang penyajiannya menggunakan tangan, serta sediakan kamar isolasi untuk antisipasi jika ada kasus saat pengunjung masi masa menginap di hotel.

“Pengelolaan makanan di food and bevearge, resto, delivery order maupun livecooking memenuhi syarat pengelolaan makanan yang sehat dan aman”, ujarnya.

Dinas Kesehatan, Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Kesehatan Olahraga, Yonatan, S.KM dan Kepala Seksi Farmasi dan Kesehatan Makanan Minuman, Gunanto, S.KM, M.Sc menjelaskan mengenai Pedoman Program Pembersihan dan Sanitasi Tempat Pengelolaan Pangan Siap Saji Edisi Khusus Pencegahan Penyebaran Covid-19.

Tujuannya dapat meminimalisir resiko dan dampak pandemi Covid-19 pada usaha sektor jasa dan perdagangan (area publik) akibat berkumpulnya sejumlah/banyak orang dalam satu lokasi.

Saat ini belum ada bukti Covid-19 dapat menyebar melalui pangan karena virus ini butuh inang hewan atau manusia untuk berkembang biak. Virus menyebar antar manusia melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi pada jarak kurang dari 1 (satu) meter atau melalui droplet orang yang terinfeksi pada saat batuk atau bersin. Droplet dapat terhirup langsung melalui hidung atau mulut, atau dapat menempel pada permukaan atau benda. Orang dapat tertular Covid-19 jika menyentuh permukaan atau benda yang terkena droplet, kemudian menyentuh mulut, hidung atau mata. Resiko inilah yang kita kendalikan peningkatan program pembersihan dan sanitasi di Tempat Pengelolaan Pangan (TTP) Siap Saji karena pada situasi Covid-19 ini tidak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan masyarakat terhadap pengan siap saji juga masih cukup tinggi dengan kemudahan layanan yang berkembang saat ini seperti delivery order maupun pemesanan melalui aplikasi daring.

Sanitasi paling efektif pada permukaan yang bersih/tidak ada penghalang bahan sanitasi kontak dengan pemukaan sehingga dilakukan setelah pembersihan.

“Pembersihan tekanan tinggi tidak boleh dilakukan saat ada persiapan makanan”, jelasnya.

Kontaminasi silang dapat terjadi jika pembersihan tekanan tinggi digunakan di tempat pemrosesan makanan. Ini disebabkan oleh kotoran dan bakteri yang terpapar ke udara dan mungkin jatuh ke makanan atau di permukaan kerja.

Pedoman Program Pembersihan dan Sanitasi Tempat Pengelolaan Pangan Siap Saji dapat diunduh di link di bawah ini:

Diharapkan dapat menjadi pedoman bagi pelaku usaha pangan siap saji, tenaga kesehatan lingkungan (pusat termasuk UPT, Propinsi, kabupaten/kota, Purskemas), penyuluh keamanan pangan, profesi terkait keamanan pangan, dan pihak lain yang terkait meningkatkan upaya pengelolaan pangan yang aman dan sehat terutama pada situasi pandemi Covid-19 seperti yang terjadi saat ini.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*